KISAH SELENDANG MANDUARO
- FKK Sibolga-Tapteng
- Mar 2
- 2 min read
[SINOPSIS]
Putri Runduk adalah seorang gadis yang terkenal karena kecantikannya. Sejak remaja, ia menerima sebuah selendang berharga dari ibunya. Selendang itu begitu istimewa—dibuat dari sutra terbaik, dihiasi sulaman emas dan perak, berkilauan saat terkena sinar matahari. Lembut dan ringan, namun kuat tak mudah sobek. Saat mengenakannya, kecantikannya semakin terpancar, membuat banyak gadis lain iri.
Namun, kecantikan Putri Runduk justru menjadi awal penderitaannya. Banyak raja ingin memperistrinya, hingga ia terpaksa melarikan diri bersama dayangnya, Si Kambang Bandohari. Dalam pelariannya, Putri Runduk sering menciumi selendangnya, menumpahkan kesedihannya di sana. Selendang itu seolah menjadi pengingat akan kasih sayang ibunya dan perlindungan ayahnya. Si Kambang, yang setia menemaninya, sering menghibur sang putri dengan senandung pantun lahek-lahek, seperti yang dulu dinyanyikan ibunya saat ia kecil.

Pelarian membawa mereka ke Pulau Putih, sebuah tempat tersembunyi dekat Pulau Mursala. Pulau ini menyimpan kenangan bersama ayahnya, yang pernah membangun sebuah pondok kecil di sana. Putri Runduk sering datang ke tempat ini, mandi di kolam jernih, menikmati keindahan alam, bahkan mendaki Puncak Mahligai di Pulau Mursala untuk melihat luasnya perairan teluk. Meski lembut, ia adalah gadis yang kuat—ayahnya telah melatihnya dalam ilmu kepemimpinan dan bela diri.
Namun, kisahnya berakhir tragis bersama Raja Janggi, penguasa yang tersohor. Di akhir takdirnya, yang tersisa hanyalah Selendang Manduaro, peninggalan terakhir Putri Runduk. Si Kambang meraih selendang itu dan menangis sejadi-jadinya, meratapi kegagalannya melindungi sang putri. Ratapan ini melahirkan syair-syair yang kini dikenal sebagai Lagu Sikambang, yang menggambarkan kecantikan, kejayaan, serta kesedihan mendalam dari tanah Pesisir.

Sejak saat itu, Selendang Manduaro menjadi simbol kasih sayang ibu kepada anaknya. Di Pesisir Tapanuli Tengah dan Sibolga, selendang ini menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang wanita. Setiap ibu menenunnya dengan penuh perasaan, mencurahkan harapan dan doa bagi anak gadisnya yang akan menikah. Bahkan, calon pengantin pun diajarkan menyulam potongan kecil dari selendang itu, yang disebut Cindai—sapu tangan yang melambangkan doa dan harapan untuk kehidupan rumah tangga mereka kelak.
Kini, Selendang Manduaro bukan hanya sekadar kain, tetapi juga warisan budaya yang menyimpan kisah cinta, pengorbanan, dan doa seorang ibu. Seperti air mata Putri Runduk yang abadi dalam senandung Sikambang dan air terjun Pincuran Dewa di Pulau Mursala, kisah ini terus hidup, dengan harapan dapat diwariskan dari generasi ke generasi.
---
Penyunting: Alma Tegar
Ilustrator: Naidi Atika Zundaro
Naskah cerita ini telah melalui proses Lokakarya Kesepakatan Para Tokoh Masyarakat dan Budayawan Sibolga-Tapteng pada 2023
Baca lebih lengkap dalam Buku Antologi Cerita Rakyat Pasisi Sibolga - Tapanuli Tengah
Comments