top of page

LEGENDA AI ABI

[SINOPSIS]

Dahulu, wilayah Sibolga masih berupa perkampungan kecil yang tersebar di kaki gunung dan sekitar Sungai Aek Doras. Penduduknya mengandalkan lima mata air utama: Pancuran Garobak, Pancuran Karambi, Pancuran Bambu, Pancuran Pinang, dan Pancuran Dewa. Mata air ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat pesisir Teluk Sibolga.


Di antara mereka, ada tiga tokoh berpengaruh yang sering bersaing merebut pengaruh. Ogek Lantam si Gadang Sarawa, seorang pedagang kaya yang sering bersedekah. Uweng Landong si Gadang Hantak, seorang perantau dari Negeri Sorkam yang dikenal dengan kekuatannya dalam mengusir penjahat. Serta Tuan Nadik Baguddat si Gadang Burakka, seorang cendekiawan yang dihormati karena kepandaiannya merangkai kata.

Namun, kedamaian mereka terusik ketika kemarau panjang melanda. Air dari kelima mata air mulai berkurang, menimbulkan kepanikan dan konflik di masyarakat. Ketiga tokoh tersebut menawarkan solusi masing-masing. Ogek Lantam ingin membeli seluruh mata air dan mendistribusikan air secara adil. Uweng Landong mengusulkan upacara tolak bala yang hanya bisa ia pimpin. Sedangkan Tuan Nadik Baguddat menyarankan musyawarah untuk membentuk pengelola mata air demi pemerataan.


Sayangnya, perbedaan pandangan ini justru memperparah situasi. Masyarakat terbagi dalam kubu-kubu yang saling memaksakan kehendak. Ketika masing-masing kelompok mulai melaksanakan rencana mereka, tiba-tiba terjadi gempa besar. Gunung tempat mata air berada mengalami keretakan, dan seketika seluruh mata air lenyap.


Ketakutan melanda seluruh warga. Mereka berteriak, “Ai habiii! Ai habiii!” (Air habis!) berkali-kali, mencerminkan kepanikan yang tak terbendung. Menyadari kesalahan mereka, ketiga pemimpin itu menyesal. Ogek Lantam menyadari bahwa hartanya tidak bisa menyelesaikan masalah. Uweng Landong menyesali usulannya yang sia-sia. Sementara Tuan Nadik Baguddat menekankan pentingnya kebersamaan untuk mencari solusi.

Di tengah keputusasaan, Uweng Landong berteriak keras, “Ai Habi!” dan secara ajaib, air mulai mengalir dari celah retakan di gunung. Masyarakat yang melihat keajaiban ini mulai berseru berulang-ulang, “Ai Habi! Ai Abi! Ai Abi!” Hingga akhirnya, dari retakan itu muncul mata air baru yang terus mengalir meski musim kemarau panjang melanda. Tempat itu pun kemudian dikenal sebagai Ai Abi, yang hingga kini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Sibolga.


Sejak saat itu, masyarakat sadar bahwa menjaga persatuan dan kerukunan masyarakat Sibolga, serta kelestarian alam adalah kunci keberlangsungan mata air, agar tidak lagi mengulang kesalahan yang sama.


---

Penyunting: Alma Tegar

Ilustrator: Deandra Marvela

Naskah cerita ini telah melalui proses Lokakarya Kesepakatan Para Tokoh Masyarakat dan Budayawan Sibolga-Tapteng pada 2023


Baca lebih lengkap dalam Buku Antologi Cerita Rakyat Pasisi Sibolga - Tapanuli Tengah

Comments


Logo FKK-01.png
Logo FML b-06.png
Logo Runduk Art Studio-02.png
Brand-02_edited.jpg

Official Merchandise

Logo FKK [Recovered]-06 b.png

SK Menteri Hukum dan HAM RI No:
AHU-0029695.AH.01.04. Tahun 2021

0821 1551 0233 / 0852 7724 6409

  • YouTube
  • Instagram
  • Facebook

©2024 by FKK Sibolga Tapteng

Supported by

Warung Etek Bungsu bw.png
bottom of page