LEGENDA PUTRI RUNDUK
- FKK Sibolga-Tapteng
- Feb 27
- 2 min read
Updated: Mar 4
[SINOPSIS]
Pada abad ke-7, di Kerajaan Barus, Tapanuli Tengah, hiduplah seorang ratu bernama Ratu Jayadana. Parasnya luar biasa cantik, tetapi ia memilih untuk selalu menundukkan wajahnya agar terhindar dari fitnah dan godaan dunia. Karena kebiasaannya ini, ia mendapat julukan Putri Runduk. Meskipun berusaha menyembunyikan kecantikannya, berita tentang keelokan wajahnya tetap tersebar ke berbagai negeri.

Kabar ini sampai ke telinga tiga raja, yakni Raja Janggi dari Sudan-Afrika, Raja Sanjaya dari Mataram, dan Raja Cina. Mereka datang ke Barus untuk melamar Putri Runduk, tetapi semuanya ditolak. Tak terima dengan penolakan tersebut, mereka bertikai dan akhirnya terjadi peperangan. Raja Sanjaya keluar sebagai pemenang, menaklukkan Barus dan menawan Putri Runduk.
Di tempat lain, Raja Janggi tidak bisa menerima kekalahannya. Ia mendalami ilmu hitam dan bersekutu dengan jin untuk meningkatkan kekuatannya. Setelah merasa cukup kuat, ia kembali menyerang Barus dan berhasil mengalahkan Raja Sanjaya. Dalam kekacauan itu, Putri Runduk melarikan diri ke Pulau Mursala bersama dayangnya, Sikambang Bandohari.

Setelah bertahun-tahun mencari, Raja Janggi akhirnya menemukan Putri Runduk dan mengepung Pulau Mursala. Putri Runduk pun mengajukan tantangan: jika Raja Janggi bisa menyatukan Pulau Mursala dengan daratan Sumatera dalam satu malam, ia akan bersedia menikah dengannya. Raja Janggi yang percaya diri menerima tantangan tersebut dan mulai menarik pulau itu bersama dengan pasukan dan gajah-gajahnya dengan rantai raksasa.
Putri Runduk yang panik meminta dayangnya untuk memukul lesung dan membangunkan ayam-ayam lebih awal, sehingga kokok ayam terdengar sebelum waktunya. Raja Janggi yang terkejut mengira fajar telah tiba dan menghentikan pekerjaannya. Menyadari bahwa ia telah gagal, ia murka dan kembali mengerahkan pasukannya untuk menyerang.
Putri Runduk mencoba melarikan diri, tetapi Raja Janggi mengejarnya. Dalam pelariannya, beberapa barang bawaannya jatuh dan konon berubah menjadi pulau-pulau kecil, seperti Pulau Situngkus, Pulau Lipek Kain, Pulau Talam, dan Pulau Setrika. Akhirnya, Putri Runduk terpaksa menghadapi Raja Janggi dalam pertarungan satu lawan satu.

Putri Runduk ternyata memiliki kemampuan bela diri yang luar biasa. Dengan Cambuk Akar Bahar, ia bertarung sengit melawan Raja Janggi. Dalam pertarungan tersebut, Putri Runduk berhasil mengalahkan Raja Janggi dengan satu pukulan telak, hingga tubuhnya terlempar jauh dan berubah menjadi Pulau Janggi.
Meskipun telah menang, Putri Runduk merasa kecantikannya hanya membawa kehancuran. Dengan hati yang berat, ia berdiri di atas perahunya, menatap laut yang luas, dan akhirnya melompat ke dasar laut, menghilang selamanya. Para pengikutnya yang setia hanya bisa meratapi kepergiannya.
Sejak saat itu, legenda mengatakan bahwa Putri Runduk masih bersemayam di bawah Air Terjun Mursala, menjauh dari dunia yang hanya memandang kecantikannya sebagai sumber konflik. Sementara itu, ratapan Sikambang Bandohari berubah menjadi lagu tradisional masyarakat pesisir, yang terus diwariskan turun-temurun hingga saat ini.
---
Penyunting: Alma Tegar
Ilustrator: Naidi Atika Zundaro
Naskah cerita ini telah melalui proses Lokakarya Kesepakatan Para Tokoh Masyarakat dan Budayawan Sibolga-Tapteng pada 2023
Baca lebih lengkap dalam Buku Antologi Cerita Rakyat Pasisi Sibolga - Tapanuli Tengah
Comments