top of page

LEGENDA UJUNG SIBOLGA

[SINOPSIS]

Pada tahun 1837, di tengah berkecamuknya Perang Paderi di Sumatera Barat, seorang pemuda gagah bernama Khulifah Alwi terpaksa melarikan diri dari kejaran pasukan Belanda. Berjanji untuk terus menyebarkan ilmu agama, ia mengarahkan kudanya ke utara hingga tiba di perkampungan kecil bernama Hajoran. Karena kelelahan, ia beristirahat di sebuah surau, tanpa menyadari bahwa takdir akan mengubah hidupnya di tempat ini.

Suara merdu Alwi saat melantunkan ayat suci Al-Qur'an menarik perhatian warga. Ketika imam surau sedang sakit, mereka memintanya menjadi imam shalat Subuh. Di antara jamaah wanita, seorang gadis cantik bernama Siti Rubiah terpesona oleh bacaan Alwi. Rasa kagum bersemi dalam hatinya. Seiring waktu, Alwi menetap di Hajoran, mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak dan membimbing para pemuda dalam ilmu bela diri. Rubiah, yang juga mengajar anak perempuan, sering bertemu Alwi hingga mereka saling jatuh cinta. Dengan keteguhan hati dan niat suci, Alwi melamar Rubiah, dan mereka menikah dengan sederhana, meskipun banyak rintangan menghadang.


Namun, kebahagiaan mereka terusik oleh Marwan, seorang saudagar kaya yang ingin menjodohkan Rubiah dengan anaknya, Burhan. Alwi, yang menentang monopoli perdagangan ikan yang dilakukan Marwan, menjadi target ancaman. Kehidupan mereka semakin sulit ketika seorang pemuda asing datang mencari Alwi dan tanpa sengaja mengungkapkan bahwa nama lengkapnya adalah Khulifah Alwi Tanjung. Maisarah, sahabat Rubiah yang diam-diam mencintai Alwi, segera menyadari bahwa Alwi dan Rubiah bermarga sama, suatu hal yang dianggap tabu dalam adat setempat.

Dengan niat buruk, Maisarah memberi tahu Marwan. Isu pernikahan semarga segera menyebar, memicu kemarahan warga. Mereka menuduh Alwi dan Rubiah membawa bala bagi kampung. Tekanan sosial membuat Alwi merasa bersalah, meskipun dalam agama tidak ada hukum yang mereka langgar. Dalam keputusasaan, ia menerima saran Maisarah untuk pergi sementara waktu mencari tempat tinggal baru di seberang lautan. Namun, Maisarah menipu Rubiah, mengatakan bahwa Alwi telah pergi karena malu dan ingin meninggalkannya.


Rubiah yang patah hati segera berlari ke Sibolga untuk mencari suaminya. Namun, Alwi telah berlayar ke tengah samudera tanpa mengetahui bahwa Rubiah mengejarnya. Dengan penuh kepiluan, Rubiah menunggu di atas batu karang di Pantai Ujung Sibolga, berharap suaminya kembali. Hari berganti hari, namun Alwi tak pernah kembali. Kesedihan mendalam membuat Rubiah tetap bersujud di batu tersebut, menolak meninggalkan tempat itu meskipun dibujuk warga.

Alwi yang dinantikan tak kunjung kembali, menimbulkan berbagai spekulasi. Ada yang mengatakan bahwa ia tenggelam di laut, sementara yang lain percaya ia ditawan penjajah dan wafat dalam perlawanan. Namun, bagi Rubiah, harapan tetap menyala. Sujudnya di atas batu karang menjadi saksi bisu penantiannya yang tak berujung.


Hingga suatu hari, di tengah derasnya hujan dan petir yang menggelegar, Rubiah larut dalam sujud terakhirnya. Tubuhnya lama-kelamaan membatu di tempat itu. Kini, di tepian Pantai Ujung Sibolga, terdapat batu menyerupai seorang perempuan yang tengah bersujud. Konon, setiap purnama, cahaya muncul dari batu tersebut, menandakan bahwa Rubiah masih menanti kekasihnya kembali. Kisahnya menjadi legenda tentang kesetiaan dan keteguhan hati yang abadi.


---

Penyunting: Alma Tegar

Ilustrator: Frederick Sabam

Naskah cerita ini telah melalui proses Lokakarya Kesepakatan Para Tokoh Masyarakat dan Budayawan Sibolga-Tapteng pada 2023


Baca lebih lengkap dalam Buku Antologi Cerita Rakyat Pasisi Sibolga - Tapanuli Tengah

Comments


Logo FKK-01.png
Logo FML b-06.png
Logo Runduk Art Studio-02.png
Brand-02_edited.jpg

Official Merchandise

Logo FKK [Recovered]-06 b.png

SK Menteri Hukum dan HAM RI No:
AHU-0029695.AH.01.04. Tahun 2021

0821 1551 0233 / 0852 7724 6409

  • YouTube
  • Instagram
  • Facebook

©2024 by FKK Sibolga Tapteng

Supported by

Warung Etek Bungsu bw.png
bottom of page